“Tulisan Pedas mengungkap keluh

Sadar pun tidak mereka itu

Hai Indonesia”

Oktober dan November dua bulan penuh duka bagi rakyat Indonesia dan berita gembira juga bagi ‘rakyat’ Indonesia. Seperti parodi sandiwara dengan improvisasi lakon anak-anak negeri ini.

Setiap pagi surat kabar yang diantarkan didepan rumah, tulisannya  menyanyi merdu tentang Merapi, Mentawai, dan Wasior dengan nada sitiran studi banding anggota DPR ke Turki. “erupsi kamis merusak 26 dusun, banjir Wasior-korban kesulitan memperoleh bantuan, Penanganan bencana (di mentawai) tak jelas” (kompas 7/11). Inilah negeri makmur yang sedang menangis dan merintih, menangis karena rakyatnya tertimpa musibah dan merintih karena anggota DPR seakan tak peduli dengan rakyatnya.

Yang lebih miris lagi, duka mendalam Indonesia atas MMW (Mentawai, Merapi, dan Wasior) hilang dengan tiba-tiba. Begitu juga kesibukan pemerintah yang beralih kepada kedatangan sang pemimpin negara adikuasa (penjajah: red) Barrack (Husein) Obama. Masyarakat elite sibuk membicarakan hal ini. lalu melupakan tetesan air mata manusia di MMW. Ada Rakyat dan mahasiswa berdemo menentang kedatangannya. Ada juga yang acuh dan malah mau berdemo dengan rangka lain sesuai “ideologi” mereka. Menurut penulis kedatangan Obama pantas ditolak karena dia belum menepati janji atas perang di timur tengah dan juga belum menghukum tentara-tentaranya yang memperkosa para (ratusan: red) muslimah. Human right atau bla-bla right?

Inilah benang kusut Indonesia. Rakyat ini harus belajar agar lebih baik lagi dengan media apa saja. Belajar mengenai tingkah laku, prinsip hidup, moral, dan Agamanya. Perhatian kita harus lebih terpusat kepada rakyat yang tertimpa bencana dan juga jangan lupa menuntut hak didepan para pemimpin. Mereka (korban bencana) masih menangis diantara tertawa-tertawa orang-orang yang menyambut Obama. Dimanakah hati nurani kita jika kita tetap enggan atas mereka RAKYAT INDONESIA di Sumatera, Jawa, dan Papua jika kita masih akan bersorak atas kedatangan presiden Amerika. DPR pun tak punya malu ke Turki dengan uang rakyat tetapi rakyatnya meregang nyawa. Mari kita bersatu untuk wasior, mari kita berhimpun untuk merapi, dan mari kita berpadu untuk mentawai.

“Kita tidak butuh DPR untuk merapi

Kita tidak butuh DPR untuk mentawai

Kita tidak butuh DPR untuk wasior

Dan kita tidak butuh Obama untuk bangkit”

Jakarta, 7 november 2010

Berani berjuang

Posted: 8 November 2010 in motivasi, renungan


“bukankah hidup ini perjuangan

Menuju kehadap-NYA?

Bukankah takdir manusia itu

Terus berjuang?

Hingga sampai waktunya

Bukankah  semua perjuangan membuahkan hasil?

Sesuai niat”

Perjuangan bukanlah sebuah penderitaan. Mengapa? umumnya manusia mempunyai paradigma yang menganggap perjuangan adalah sebuah proses yang mana proses tersebut dilalui secara bertahap dengan pengorbanan, kesabaran dan kerja keras. Hal tersbut merupakan doktrin tradisional yang telah ditanamkan sejak dini hingga remaja. Padahal jika ditelaah lebih dalam lagi perjuangan adalah kebahagiaan dimana pengorbanan akan sangat berarti, kesabaran akan memberikan buah kesabaran, kerja keras membimbing diri manusia menjadi manusia yang mempunyai pendirian yang teguh dan kokoh. Serta hasil dari perjuangan itu adalah puncak dari kebahagiaan sebuah perjuangan. Dengan kata lain tiap perjuangan yang pedih iringilah dengan senyum karena semua perjuangan akan memberikan hasil pasti sesuai niat dan tujuan manusia itu sendiri.

Kebahagiaan atas perjuangan adalah sebuah nikmat hakikat perjuangan, sedangkan tahap-tahap yang dijalani merupakan kekuatan dasar untuk membentuk mental seorang manusia sejati melalui binaan dan bimbingan dari proses perjuangan itu kepada diri, jiwa dan emosi manusia. Kekuatan tersebut tertanam dalam mental yang dibentuk oleh pemahaman atas informasi mengenai esensi perjuangan yang didapat sebelumnya. Pengalaman juga mempunyai peranan penting dalam membentuk kekuaatan untuk berjuang. Pengalaman berperan sebagai induk sari kekuatan perjuangan sedangkan pemahaman akan membentuk pola pikir manusia untuk lebih kritis terhadap hal yang mereka perjuangkan sehingga tidak ada keraguan atas apa yang mereka perjuangkan.

Kekuatan untuk berjuang di “arena” hidup ini tidak lain adalah kemauan. Semakin besar kemauan seorang manusia untuk suatu tujuanmaka semakin besar juga kekuatannya untuk berjuang. Kombinasi pengorbanan, kesabaran, dan kerja keras akan menghasilkan kemauan yang kuat dan tekad bulat. Kemauan itu  sendiri akan merupakan jiwa dari pengorbanan, kesabaran, dan kerja keras untuk tetap istiqomah. Maka apabila kemauan untuk berjuang berkurang solusinya adalah kembali kepada niat dan tujuan dari hal yang sedang kita perjuangkan.

Setelah semua telah lengkap, kemauan sudah besar, tekad sudah bulat, mental sudah kuat dan langkah perjuangan telah melangkah dengan mantap. Tetapi apa yang diperjuangkan? Dr. Thariq Muhammad As-Suwaidin dan Prof. Dr, Faisal Umar Basyarahil dalam bukunya memproduksi pemimpin hebat “kita punya satu badan maka hargailah, kita punya satu akal maka ajarilah ilmu, kita punya satu kehidupan maka berjuanglah” dalam konteks ini berjuang adalah berusaha menjadikan kehidupan lebih berarti sehingga semua tindakan yang kita lakukan dapat kita pertanggungjawabkan di depan Sang Khaliq. Berjuang juga dapat diartikan dengan mengupayakan usaha kita agar bermanfaat bagi orang banyak. Jadi berjuanglah wahai muslimin wal muslimah. Untuk umat, dan karena Allah SWT.



……………….

Posted: 3 November 2010 in puisi, renungan, Uncategorized

karya : M. Ansyari tantawi

saat hidup awal membuka mata
hening……….
lembut………
apa yang awal
apa yang terpikir

heningnya pagi dan lembutnya hari
menyambut mentari
senyum, kubuka mata
sedih, ku buka dosa
marah, ku buka kesal
kesal kubuka masalah

namun dia…….
dia muncul di hati
marah pun padam
kesal meleleh
dan sedih adalah pelajaran

dia hidupku
dia segalanya
mengingatnya lebih baik dari dunia
senyum, ku menantang hari
senyum, ku membelah badai
senyum, ku mencintainya
karena aku
fana dan dia kekal
aku ingin mencintaiNYA

orang tua kedua

Posted: 3 November 2010 in puisi, renungan

karya M. Ansyari Tantawi

dewasa aku sudah
dewasa……..
aku……..semua adalah aku
terkuat

tapi ak jumpa denganmu

ku ikuti apa yang ka mau
kau bilang ya

ku merasa ada yang salah
kau bilang biasa

ku tusuk kau dari belakang
kau bilang itu bukan aku

ku hantam kau dengan pukulan telak
kau bilang aku mengerti

hingga akhirnya aku menjadi saya
saya menjadi perisaimu

maafkan aku guru
sabarmu tak terbalas

maafkan aku…………..
maaf……
terimakasih

perjuanganmu ku lanjutkan

menunggu

Posted: 3 November 2010 in puisi, renungan

karya : Fajar Afandi

langit mendung seperti bersedih
melihatku berdiri disini sendiri
apakah ini selalu terjadi padaku
menunggu sesuatu yang takkan ada untukku

saat jiwaku pilu
menunggumu membuatku jenuh
tak pernah sekalipun kau datang
hingga gelapku menjelang

lepaskan aku
semua ini membuatku jenuh
bagai hati tertusuk belati
bak maut akan menjemput

belum waktuku

Posted: 3 November 2010 in cinta, puisi, renungan

karya : M. Ansyari tantawi

coba renungkan
ada malam ada siang

coba renungkan
ada langit ada bumi

coba pikir
ada panas ada dingin

coba pikir
ada hitam ada putih

kalian pikir apa
ku pikir
dia masih menunggu
menunggu untuk kubawa
menunggu untuk kusanding
namun ini belum

kalian pikir dia
entahlah mungkin iya
entahlah mungkin bukan
tapi ini pasti

yang pasti dia yang terbaik
yang membunuh sedih
yang menentang amarahku
namun sekarang
belum masaku

sayat

Posted: 3 November 2010 in puisi, renungan

karya: M. Ansyari Tantawi

kalian pernah dengar
suara gemertak tulang dihantam gada senjata
aku belum

kalian pernah rasakan
hangatnya alir darah di leher
dalam mimpiku

kalian pernah rasakan
saat sesak dada tertusuk belati
hm… aku nyaris

kalian pernah rasakan
pucat, berdebar, pengecut, takut untuk syahid dijemput maut
aku tidak akan

atau…

kelian pernah dengar
suara jilatan sebilah pedang
aku ingin dan sedang

aku yang menggenggam pedang itu
dia menjilat saat menyayat daging
hingga terburai darah segar merah

tapi
aku senyum
merasakan
kalian dapat merasakan
nikmatnya suara tetes darah dari nadiku