Mentawai, Mimpi, Dan Ibuku
Dua belas malam…
Bulan tak kelam…
Di ranah Mentawai…
Nan indah permai…
Di malam yang sepi ini masih saja terngiang sebuah lirik lagu daerah yang didendangkan Pak supir ketika menuju ke pulau ini. Matahari senja Mentawai yang kurindukan selama beberapa tahun menatapku tadi sore seakan membalas dendam rindunya kepadaku. Akhirnya… setelah melalui perjalanan panjang yang penat aku sampai di tempatku dibesarkan dulu, sebuah kampung pesisir kecil berindukkan pulau terpinggir Sumatera, Mentawai.
Untuk beberapa bulan kedepan menara gading alias kampus tercinta akan kutinggalkan dan digantikan dengan gubuk tua yang selalu dihembus angin pantai yang sejuk. “tak, tak, tak, tik tuk, tik, tuk…” suara jarum jam beradu dengan suara keyboard laptopku. Maklumlah aku akan menerbitkan sebuah tulisan tahun ini hitung-hitung kejar target. Rencananya malam ini aku akan begadang untuk melanjutkan karya perdanaku ini. “Ya… mudah-mudahan selesai” gumamku dalam hati.
Pukul 12:00 WIB, tunduk-tunduk dan hampir tertidur, tiba-tiba “kriik” suara decit pintu yang terbuka. Ibu muncul dengan tiba-tiba seakan menodong diriku yang hampir tertidur.
“hayo… kok ketiduran nak? Katanya mau jadi penulis yang akan menerbitkan buku pertamanya? Mana semangatnya? Gitu aja keok” Ibu mengejekku.
“ah… ibu, sudah mengagetkan, menyindir pula, ini sedang berusaha Bu, berusaha, semangat ‘45 tapi he..he… mataku sudah seperti unta dipadang pasir antara terbuka dan tertutup” jawabku sedikit membela diri.
“ya sudah, kalau sudah letih jangan dipaksakan nanti kamu sakit dan jangan lupa matikan laptopmu kalau kamu tidur ya”kata ibu sambil meletakkan teh hangat di meja belajarku.
“he em, terima kasih ya Ibunda” jawabku singkat.
Ibuku menggantikan peran ayah dalam keluarga. Beliau menjanda sejak ayahku meninggal karena perahu penagkap ikannya karam 10 tahun lalu. Sejak saat itu, Ibu berjuang sendiri untuk melanjutkan kehidupan kami. Wajahnya selalu membuatku tersenyum, Ibuku wanita paling tegar yang ikhlas mencintaiku dan menyayangiku.
Pukul satu tepat, jariku masih lincah menari diatas keyboard menekan tombol demi tombol sehingga membentuk rangkaian kata hasil pemikiranku sendiri. Bahkan malam ini hal-hal yang ingin aku tuangkan dalam tulisanku keluar mengalir ibarat air yang terus mengalir. Tiap kata yang membentuk kalimat aku ketik dengan cermat dan teliti. Tapi tiba-tiba, aku terperajat hebat, kepalaku pusing, pusing sekali. Karena terlalu pusing sampai-sampai aku mendengar suara dentingan peralatan makan didapur yang saling beradu serta decitan meja dengan lantai dan anehnya mengapa gelasku jatuh dari meja? “oh! Gawat! Ini bukan pusing. Ini gempa! Gempa! Pikirku cepat.
….
“Bu! Ibu!” teriakku sambil berlari keluar kamar menuju kamar ibu.“Bu! Ayo keluar dari rumah! Gempa bu! Gempa bumi! Aku panik, panik sekali tak tahu perabotan apa saja yang telah ku pecahkan saat berlari menuju kamar ibu. Ketika akan sampai dikamarnya aku melihat ibu sedang menutup pintu keluar dari kamarnya. Dengan beribu rasa cemas di hati dan rasa panik yang mengebu-gebu tanpa pikir panjang ku angkat Ibu naik kepunggungku. Aku berlari keluar rumah dengan Ibu berada di punggungku aku khawatir akan keselamatannyan karena umurnya sudah terlalu renta untuk berlari.
“Tak apalah aku berlari membawa Ibu yang penting dia selamat. Aku tahu kekuatan gempa kali ini berbeda dari yang pernah aku rasakan, ini terlalu kuat. Aku khawatir denganmu bu, aku tidak mau kehilangan orang yang ku sayang untuk kedua kalinya” rintihku dalam hati sambil berlari menuju lapangan yang sering dipakai anak-anak untuk bermain bola.
Malam ini hampir semua warga kampung berkumpul di lapangan itu. Aku dengan ibu ikut berkumpul di tempat itu.
“maaf bu aku panik, maaf” kataku sambil menurunkan ibu dari punggungku. Ibu hanya mengangguk dengan wajah pucatnya. Kali ini tidak terasa letih bagiku walaupun sudah berlari mengangkat ibu, hanya nafasku yang masih terengah-engah,
….
“tee…e…e…e…e..e..e……t” alarm berbunyi. “Suara apa itu Bu?” tanyaku pada ibu. Belum sempat membuka mulutnya untuk berbicara, pengeras suara mesjid sudah menggemakan “tsunami..! Tsunami…! lari ke tempat tinggi! Lari ke tempat tinggi! Cepat! Cepat!”
“Apa! Oh tidak!” teriakku kaget. Wajahku menoleh ke arah ibu yang masih pucat dan gemetaran seluruh tubuhnya karena takut. Aku tidak tega memaksanya untuk berlari. Meskipun dia di punggungku tetap saja sakit karena guncangan saat aku berlari. Tetapi harus bagaimana lagi? Melihat warga telah panik tubuh ibu yang lemah tidak akan mereka pedulikan lagi, bahkan mungkin bisa terinjak-injak oleh mereka. “ibu, ayo kita pergi” kataku sambil mengangkatnya. Kali ini aku harus berlari lebih cepat kemana sajalah asal jauh dari pantai.
“huh…huh..huh…”nafasku sudah tak kuat lagi untuk berlari tetapi akan ku paksakan “aku tidak mau kehilangan engkau bu, aku masih rindu padamu” hatiku meronta, aku terus berlari dalam gelap. Entah pukul berapa ini yang penting aku lari pergi jauh dari pantai. Aku lari lurus terus menjauh dari pantai. Entah sampai kapan aku harus berlari.
“Bu, ibu baik?” tanyaku dengan terengah-engah.
“iya” jawabnya singkat dan lemah
“tenang ya Bu kita akan selamat, aku janji akan menyelamatkan ibu bagaimanapun caranya” dukungku meyakinkan. Aku terus berlari dan
“Duk!”
“aaah!” teriakku menahan nyeri di kepala. Aku menabrak pohon. Tubuhku terjerembab di tanah namun pikiranku tetap tertuju kepada ibu, ibu juga jatuh dari punggungku
“Bu! Dimana?” aku gelagapan mencari tubuh ibu dalam gelap, liar tanganku menerawang ke segala arah. Tepat! Tanganku menyenggol tubuh seseorang yang kemungkinan besar ibuku.. Ku angkat tubuh itu dan kubawa berlari, entah tubuh siapa ini tetapi firasatku mengatakan ini tubuh ibuku..
Masih berlari, air mataku menetes membayangkan aku berpisah dengan ibunda tercinta. Aku tidak dapat menerima kenyataan kalau aku berpisah dengannya. Tiba-tiba tubuh yang ku angkat bersuara
“Nak ibu letih, dan sakit” katanya dengan suara lemah
“syukurlah ini ibuku” gumam hatiku.
“ iya Bu sebentar lagi” jawabku tenang sambil berlari.
“Tunggu!” benakku tersentak. “Kenapa hening sekali? Dimana orang-orang?” Aku berhenti berlari dan membalikkan badan. Kupandang jauh ke arah pantai disana tampak bulan purnama cerah yang cahayanya memantulkan gulungan layar besar berwarna abu-abu memangsa apa saya yang ada didepannya, mengulung mayat-mayat warga, meluluhlantakkan desa, membumikan rumah-rumah warga , dan itu ada didepanku, menantangku.
“tidak sempat Bu” kataku lemas
“Ibundaku tersayang kalau kita berpisah disini, janganlah salah satu diantara kita merasa sedih. Ini sudah kehendak-Nya. Terima kasih Bu atas kasih sayangmu selama ini. Aku tidak mampu lagi. Maafkan atas semua kesalahanku Bu aku sayang padamu.engkau……. , Bu maafkan ananda, maafkan aku” pintaku sambil menangis meraung berlutut dihadapannya dan memeluknya erat. Sebentar lagi aku tidak akan pernah mendapatkan pelukan ini lagi.”ungkapku dengan iringan isak tangis didada. Aku lemah, kali ini aku lemah, tak ada kepala yang congkak lagi di hati ini. Cita setinggi bintang dilangit sekarang legam jatuh ke tanah. Berada di ambang kematian.
“ananda” panggil ibu dengan lembut kepadaku. Tangan halusnya membelai kepala dan pipiku. Dengan senyum manis dan penuh rasa sayang Ia berkata “bukankah kematian sudah ditakdirkan? Jadi apa yang kamu sesalkan? Anakku tersayang tetaplah tegar walaupun kau tahu hal yang kau perjuangkan kemungkinannya kecil, tetapi ingat masih ada Allah yang memperhatikan hambanya dan Dia maha perkasa. Terkadang sesuatu itu terasa sangat berarti bukan karena hasilnya namun karena besarnya pengorbanan dan gighnya perjuangan kita”. Ibu berkata demikian aku sadar ombak itu sudah di dekatku. Ku peluk ibu seerat mungkin.
Saat ini percikan ombak telah menyentuh wajahku tinggal beberapa detik lagi dan…
….
“astagfirullah! sudah jam empat pagi! aku ketiduran dan laptop masih menyala” gerutuku dalam hati sambil bergegas membereskan laptop dan alat-alat tulisku. Setelah berberes-beres, aku terduduk termenung diteras rumah memandang bulan yang menyapa laut. merenungkan mimpi yang baru saja menghantuiku. Tanpa sadar air mataku menetes membayangkan jika itu benar-benar terjadi. Rasanya hati ini belum siap untuk berpisah selamanya dengan ibu.
Bergegas aku ke kamar ibu, ku buka perlahan pintu kamarnya. Ku perhatikan wajah ibu yang sudah tua tetapi kecantikan hatinya tetap abadi begitu juga sayangnya. Ketika ibu tidur ku cium keningnya
“ibu aku takkan siap berpisah denganmu, dan aku yakin engkau merasakan hal yang sama. Ibu aku akan jadi penolong bagimu dengan doa-doaku dan perilakuku ketika engkau sudah tiada. Ibu mulai detik ini tidak akan pernah ku lupakan doa untukmu di selesai sholatku. Janjiku untukmu sebagai tindakan kecil atas baktiku. Ini tekadku dan aku harus bisa” ungkap ku dalam hati ketika keluar dari kamarnya.
Ketika dirimu sendiri…
Ketika dirimu terasing…
Ketika kau berpikir tidak ada yang ingat padamu…
Ketika kau merasa tidak dicintai…
Ingatlah bahwa ibumu…
Ibumu…
Tak pernah melupakanmu…
Tak pernah melupakanmu…
Tak pernah melupakanmu…